You are here
News 

Mahasiswa Solo gruduk KPU membawa keranda pocong

SOLO (LN) – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Solo Raya demonstrasi di kantor KPU Solo, Jalan Kahuripan Utara No.23, Sumber, Banjarsari, Senin (20/5) sore. Para mahasiswa berasal dari BEM Universitas Sebelas Maret (UNS), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), BEM Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta.

“Berdasarkan data petugas KPPS yang meninggal sudah mencapai 527 orang. Yang sakit sudah mencapai 11.239 orang. Fenomena tersebut tidak bisa dianggap remeh, bahkan dunia Internasional mulai menyorot kasus kematian yang tidak biasa ini,” ujar Koordinator Aliansi Mahasiswa Solo Raya, Agil Setiawan.

Peristiwa tersebut, lanjut Agil menjadi bentuk kegagalan pemerintah mengantisipasi dampak buruk dari sistem Pemilu yang dibuat. Pemerintah dan penyelenggara Pemilu, kata dia, harus mengevaluasi secara menyeluruh dari sistem Pemilu serentak yang sudah berjalan.

“Negara harus bertanggung jawab, harus menyelidiki kasus ini secara komprehensif dan transparan agar penyebab kematian diketahui dengan jelas,” tandasnya.

Selain prihatin, para mahasiswa juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Di antaranya mendesak pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen. Menuntut pemerintah dan penyelenggara Pemilu (KPU, Bawaslu dan DKPP) mengevaluasi Pemilu serentak secara terbuka dan independen.

“Kami juga menuntut pemerintah segera merealisasikan pemberian santunan kepada korban. Kemudian kami juga mengajak dua kubu peserta Pemilu berhenti memanfaatkan isu kemanusiaan untuk kepentingan politik praktis dan elektoral semata,” tegasnya.

Dalam aksi tersebut, ratusan aparat gabungan TNI dan Polresta Surakarta melakukan pengamanan. Pintu masuk ke halaman kantor KPU juga dipasang gulungan kawat berduri.

Related posts

Leave a Comment