Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melalui Satgaswil Jawa Tengah menggelar kegiatan bertajuk Seminar dan Peningkatan Kemampuan
Boyolali – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melalui Satgaswil Jawa Tengah menggelar kegiatan bertajuk Seminar dan Peningkatan Kemampuan Menuju Ponpes Darusy Syahadah Berkelanjutan di Pondok Pesantren (Ponpes) Darusy Syahadah, Kecamatan Simo, Boyolali, Senin (2/2/2026).
Kegiatan ini bertujuan memberdayakan para santri dan asatidz melalui penguatan kemandirian ekonomi pesantren. Kasatgaswil Jawa Tengah Densus 88 Polri, Kombes Pol. Choirul Anam, menjelaskan bahwa kehadiran negara di lingkungan pesantren saat ini lebih menitikberatkan pada pemberdayaan sumber daya manusia.
“Tujuannya membekali santri maupun pondok pesantren dengan kemandirian. Jadi, bekal mereka kelak di masyarakat bukan hanya ilmu agama, tetapi juga keahlian nyata yang dapat dimanfaatkan untuk bertahan hidup,” ujarnya usai membuka kegiatan.
Berbagai pelatihan keterampilan praktis diberikan dalam kegiatan tersebut, disesuaikan dengan kebutuhan dan peluang pasar saat ini. Para santri dan asatidz mendapatkan pelatihan penanaman dan pengolahan kopi hingga teknik barista, pelatihan pangkas rambut kekinian (barbershop), serta manajemen modern peternakan kambing perah.
Choirul Anam menambahkan, program ini merupakan bagian dari pendekatan lunak (soft approach) yang dilakukan secara berkelanjutan. Selain mendorong kemandirian ekonomi, kegiatan ini juga diarahkan untuk membangun lingkungan pendidikan yang tangguh dan resisten terhadap paparan paham intoleransi dan radikalisme.
“Ponpes Darusy Syahadah kami gadang-gadang menjadi pilot project percontohan, bagaimana pesantren dapat mandiri secara ekonomi sekaligus berperan sebagai garda terdepan dalam merawat kebhinekaan di Jawa Tengah,” imbuhnya.
Pesantren Sambut Antusias
Langkah jemput bola Densus 88 tersebut mendapat sambutan positif dari pihak pesantren. Pimpinan Ponpes Darusy Syahadah, Ustadz Qosdi Ridwanullah, mengapresiasi inisiatif pemberdayaan yang dinilainya sangat relevan dengan kebutuhan pesantren.
“Respons kami sangat positif. Bukan hanya pimpinan, para guru dan santri juga antusias. Bahkan guru yang sebelumnya belum memahami teknis pertanian kini terdorong untuk langsung mempraktikkan ilmu yang diperoleh,” ungkap Qosdi.
Ia berharap, transfer pengetahuan dari para instruktur dan ahli yang dihadirkan dapat mendorong unit-unit usaha pesantren berkembang lebih profesional dan berkelanjutan.
